“Pada waktu itu, santri-santri Tebuireng mengatakan, ada dua penghuni surga yang ada di bumi, yaitu Mbah Idris dan Mbah Adlan Ali. Beliau berdua sama-sama alim, wara’, zuhud, dan istiqomah.” (Prof. Dr. KH. Moh. Tholhah Hasan, MA.)
“Saya yakin bahwa saat inipun masih ada sosok kyai seperti Kyai Idris, tentu teramat langka dan sulit untuk bisa mengetahui dimana keberadaannya. Kyai-kyai yang ikhlas dan tekun dalam mendidik santri yang potensial untuk bisa menjadi kyai yang baik seperti Kyai Idris-lah yang masih bisa kita harapkan untuk membawa umat ke arah kemajuan. Keikhlasan kyai-kyai seperti Kyai Idris Kamali sudah amat jarang kita saksikan.” (Ir. KH. Sholahuddin Wahid)
“Mengaji dengan Kiai Idris, maka santrinya yang membaca kitab (sistem sorogan). Menurut Kiai Idris ‘Kalau yang membaca kitab itu guru, nanti yang pintar gurunya sendiri, sedangkan muridnya tetep bodoh’.” (KH. Abdul Hayyie M. Na’im)
“Kiai Idris adalah sosok kiai yang tawadhu’. Ini tampak ketika beliau ditanya, ‘Kiai, kenapa kok haji lagi?’ Beliau menjawab ‘Ah, saya kan mau kulakan lagi, Kalau jual terus, kan habis ilmu saya,’ demikian sedikit gambaran dari sikap tawadhu’ beliau. Padahal ilmu beliau masih banyak.” (KH. M. Ishaq Lathief)
“Suatu ketika ada jin yang mengganggu suasana pondok. Semua panik. Tanpa pikir panjang saya maju sambil berteriak “Saya adukan kamu ke Mbah Idris!!!” Mendengar kata-kata saya, jin yang mengganggu itu lari dan tidak berani kembali.” (Prof. Dr. KH. Said Aqil Siradj, MA.)
“Kiai Idris adalah Wali Mastur. Tidak mau menampakkan karomahnya sama sekali. Memang kewalian beliau tertutup dengan keilmuannya Masalah apa saja, beliau langsung buka kitab dan halamannya pas!.” (KH. Zubaidi Muslih)
“Yang saya tahu, bahwa beliau adalah muhadditsin murni. Cara berfikirnya layaknya ahli hadits. Pernyataan-pernyataan beliau dilandasi hadits. Seperti beliau mengharamkan potret, bank, dan lain-lain. Semua itu beliau dapati sesuai dengan hadits-hadits yang beliau kaji.” (KH. Habib Utsman Yahya)
“Beliau itu, tidak pernah keluar dari lokasi yang dibuat untuk ngaji (masjid). Apalagi yang namanya jalan raya, nggak pernah tahu. Beliau itu yang dipentingkan hanya shalat dan mengaji kitab.” (KH. Habib Ahmad)
 |
KH. Idris Kamali |
“Kiai Idris sepertinya hidup untuk melayani santri. Misalnya beliau punya kambing atau punya sesuatu semuanya itu untuk santri. Kalau ada kitab khatam, beliau tasyakuran menyembelih kambing.” (Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Ya’qub, MA.)
“Kiai Idris dan al-marhum ayah sering sekali berdiskusi, membicarakan kitab-kitab kuning. Bahkan ayah selalu datang ke kamar Kiai Idris di atas jam 00.00 dini hari lewat pintu belakang.” (Agus Cecep Karim Hasyim)
“Dalam istilah ilmu tasawuf, Kiai Idris sudah mencapai tingkatan tajrid atau al-‘arif billah. Yang jelas saya mendengar dari al-marhum Kiai Shobari bahwa Kiai Idris itu min auliya’illah. Beliau pernah bermimpi, antara Kiai Idris dan Kiai Hasyim itu satu jalur dan sejajar.” (K. Qamuli Khudhari)
“Yang sangat berkesan bagi saya, Kiai Idris selalu membaca Al-Quran tanpa mushaf, alias hafalan di luar kepala. Sedangkan para santrinya menyimak bacaan beliau. Di Tebuireng dan di Makkah juga seperti itu.” (Prof. Dr. H. M. Djamaluddin Mirri, MA.)
Wallahu A’lam
ADS HERE !!!